Ketika Ibu Jatuh, Cinta!

“Ketika Ibu jatuh dulu, Ibu tidak langsung bangkit. Ibu teruskan dengan bersujud, minta kekuatan oleh Sang Maha Kuat,” ibuku meneruskan ceritanya.

“Ibu benar-benar tidak punya apa-apa saat itu. Bahkan semangat hidup pun hampir tidak ibu miliki.”

“Ayah?” tanyaku. “Do’akan saja ayahmu, sekarang ibu sudah memaafkan dan melupakannya.”

Sambil memelukku, ibu menutup, “jadilah wanita yang kuat, yang akan terus bangun lagi saat jatuh. Jadilah wanita yang lebih kuat dari ibumu ini ya, Cinta!”

*) Flash fiction pertama. Percobaan pertama sekali menulis fiksi
*) 71 kata, tidak termasuk judul dan catatan kaki ini.
*) Ditulis untuk Monday Flash Fiction Prompt #46 : Ketika Ibu Jatuh Cinta
*) Sengaja memplesetkan judulnya biar berbeda 😀

Join the Conversation

5 Comments

    1. ceritanya pengen cerita saat ibunya curhat ke anaknya yg bernama Cinta 😀

      tapi namanya baru pertama, ya acak2an ya hehehe..

      yang lain udah dibaca sampling aja, 2-3 tulisan aja..

      mohon bimbingannya yaa

  1. wahahahahahaha 😆 kreatif sih….
    Hmmmm… jadi ini masukan saya ya Mas..

    Konflik kurang kuat. Di akhir cerita saya sempat bertanya, “yeah, so…?” … Jadi istilahnya, terus kenapa gitu? Kenapa anaknya harus kuat? Apakah anak mengalami sebuah peristiwa yg membuatnya jatuh? 😀
    Trus memangnya Ayah ke mana? Kok dimaafkan dan dilupakan?

    Tapi cara nulisnya udah rapi sih 🙂 udah enak dibaca. Cuma kayaknya kemarin ini nulisnya terburu-buru sih ya, biar diapprove sama si Mpok 😆 hahahahah

    Keep writing! 😉

    1. waaah, masukan yang amat berarti mbaak ^^

      dua hal: saya juga dasarnya jarang baca genre fiksi (berarti harus diperbanyak nih referensi fiksinya) dan iya, ini ditulis terburu-buru, cuma 20 menit menjelang pulang kantor, demi diapprove dulu masuk MFF hihihi..

      yang berikutnya mudah2an bisa lebih baik lagi..

      terimakasih banyak yaaa

Leave a comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: